Sejarawan Tom Holland menyelidiki kematian Yesus dan mengalami pertobatan iman

Pria berpakaian formal membaca buku kuno di perpustakaan gotik.

Sebuah salib kayu berdiri di atas reruntuhan gereja yang hancur di Sinjar, Irak utara. Pemandangan itu membuat Tom Holland terdiam. Sejarawan Inggris terkenal itu sedang meliput bersama kru BBC pada Juli 2016, tiga bulan setelah ISIS gagal merebut kembali kota tersebut setelah membantai ratusan warga Yazidi. Bau kematian begitu menyengat hingga Holland harus berhenti berbicara di depan kamera. Namun justru di sinilah, di tengah puing-puing itu, sesuatu mulai bergeser dalam dirinya.

Holland bukan orang yang mudah tersentuh hal-hal spiritual. Ia tumbuh sebagai ateis, kemudian menggeser dirinya ke posisi yang ia sebut “agnostisisme yang tidak jelas”. Lahir di Oxford dan besar di dekat Salisbury, ia lebih tertarik pada keagungan para prajurit Sparta dan legioner Roma daripada kisah-kisah Alkitab. Buku-bukunya tentang Yunani dan Romawi kuno — termasuk Rubicon — menjadikannya selebriti intelektual di Inggris. Ia membawakan podcast populer The Rest is History bersama Dominic Sandbrook, dan membandingkan para pemimpin kuno itu sebagai “predator puncak” dunia Yunani-Romawi.

Ketika sejarawan menelusuri penyaliban Yesus

Saat tiba di Sinjar, Holland sedang meneliti sebuah buku tentang Kekristenan dari sudut pandang sejarah. Tapi apa yang ia saksikan memaksanya berpikir ulang. ISIS menjalankan logika kuno yang sangat ia kenal : yang kuat berkuasa, yang lemah menanggung akibatnya. Penyaliban sebagai alat intimidasi — persis seperti yang dilakukan Romawi terhadap para budak dan pemberontak.

Perbandingan ini mengejutkannya secara mendalam. Bagi Romawi, mati di kayu salib adalah bentuk kematian paling hina dan menyakitkan. Namun orang-orang Kristen mula-mula justru mengubah simbol itu menjadi lambang identifikasi Tuhan dengan yang lemah dan tertindas. Holland mulai menyadari betapa revolusionernya gagasan ini dalam sejarah peradaban Barat.

Penemuannya itu ia tuangkan dalam buku Dominion : How the Christian Revolution Remade the World (2019). Salah satu pengulas menyebut buku ini “meledak seperti bom … dan terus mengirimkan gelombang kejut ke dunia akademik dan diskursus publik.” Tesis utamanya tajam : nilai-nilai Barat seperti kesetaraan, hak asasi manusia, dan kasih sayang bukanlah naluri universal manusia — melainkan produk langsung dari Kekristenan.

Nilai Barat Akar Kristen menurut Holland
Kesetaraan manusia Semua diciptakan dalam gambar Allah
Hak asasi manusia Martabat yang diberikan oleh Sang Pencipta
Pembelaan terhadap yang lemah Teologi salib yang membalik hierarki kekuasaan

Kanker, doa tengah malam, dan pertanyaan yang belum tuntas

Pada Desember 2021, Holland didiagnosis menderita kanker usus. Dokter memperingatkan kemungkinan operasi serius dengan risiko berat. Malam Natal itu, ia pergi ke gereja St. Bartholomew the Great di London — salah satu gereja tertua kota itu — dan berdoa untuk pertama kalinya sejak usianya 10 tahun.

Hasil tes berikutnya menunjukkan kanker tidak menyebar. Ia kini dinyatakan bersih. Apakah itu mukjizat ? Holland sendiri tidak mau memastikan. “Itu kebetulan, tapi aku tidak mau 100 persen menyebutnya kebetulan,” katanya kepada CNN. Ia menyebut pengalaman itu sebagai “kemungkinan supernatural yang berkilauan.”

Perjalanan imannya kini membentuk posisi yang unik. Berikut ini beberapa titik penting dalam transformasi Holland :

  • Skeptisisme masa kecil dipicu oleh gambar dinosaurus di Alkitab anak-anak
  • Studi mendalam tentang moralitas Romawi membuatnya merasa asing dengan nilai-nilainya sendiri
  • Pengalaman di Sinjar menghubungkan logika kekejaman ISIS dengan logika Romawi
  • Krisis kesehatan mendorongnya kembali berdoa secara sungguh-sungguh

Ibunya, Janet Holland yang kini berusia 92 tahun, menjawab tegas saat ditanya apakah putranya seorang Kristen : “Ya. Tapi dia tidak pernah benar-benar mengakuinya, bukan ?” Holland sendiri hari ini menjawab pertanyaan itu dengan lebih sederhana : “Saya akan mengatakan saya seorang Kristen.” Bukan berdasarkan doktrin, melainkan puisi, simbol, dan kerelaan untuk hidup dalam misteri iman.

Sejarawan Tom Holland menyelidiki kematian Yesus dan mengalami pertobatan iman

Agung
Scroll to Top