Umat Kristen Gaza tolak rayakan Paskah di tengah genosida yang terus berlangsung

Sekelompok orang berdoa di reruntuhan kota yang hancur

Lebih dari 72.000 warga Palestina telah tewas sejak 7 Oktober 2023 akibat serangan Israel di Gaza. Di antara mereka, terdapat anggota komunitas Kristen yang kini menjalani Paskah 2026 bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai momen duka yang dalam.

Gaza menampung kurang dari 1.000 umat Kristen — sebuah komunitas kecil yang telah menghuni wilayah ini selama lebih dari 2.000 tahun tanpa henti. Perang terus menggerus jumlah mereka. Banyak yang tewas, banyak pula yang melarikan diri meninggalkan Jalur Gaza.

Fouad Ayad, seorang pelatih bioenergi berusia 31 tahun yang terpaksa mengungsi dari rumahnya dekat Rumah Sakit Anak Al-Rantisi di Gaza barat, menceritakan betapa sulitnya menemukan telur — simbol tradisional Paskah — di seluruh pasar Gaza. Telur itu tidak ada di mana pun. “Kami biasa menghias telur untuk anak-anak kecil, bahkan anak-anak Muslim pun datang meminta telur berwarna,” katanya. Kini, tradisi itu hanya tinggal kenangan.

Tradisi Paskah yang terkubur di bawah blokade dan pemboman

Elias al-Jelda, warga berusia 60 tahun dari kawasan Tal al-Hawa, kehilangan rumahnya akibat serangan. Ia sempat berlindung di Gereja Keluarga Kudus sebelum menyewa apartemen di lingkungan Sabra sejak gencatan senjata. Baginya, Paskah dulu berarti keluarga berkumpul, kue kahk dan maamoul tersaji di meja, dan anak-anak berlarian membawa Eidiya — hadiah tradisional khas hari raya.

Amal al-Masri, 74 tahun, mengalami nasib tak jauh berbeda. Ia mengungsi tiga kali bersama suaminya — dari az-Zahra, ke Rafah, lalu ke Khan Younis. “Selama dua tahun di selatan, tidak ada perayaan sama sekali. Bahkan pada Natal, kami duduk di kasur karena tidak punya kursi,” ujarnya. Ia mencari telur ke seluruh penjuru Gaza dan tidak menemukan satu pun.

Situasi yang dihadapi komunitas Kristen Gaza saat ini dapat dirangkum sebagai berikut :

  • Tidak ada telur untuk tradisi egg coloring Paskah
  • Daging langka dan harganya sangat mahal
  • Listrik hampir tidak tersedia, biaya solar dan minyak generator melonjak
  • Tidak ada taman bermain, wahana hiburan, atau restoran terjangkau untuk anak-anak
  • Umat Kristen Gaza tidak bisa menghadiri kebaktian di Gereja Makam Kudus di Yerusalem Timur selama dua tahun berturut-turut

Gereja Keluarga Kudus — satu-satunya gereja Katolik di Gaza — diserang berkali-kali. Fouad menyebutkan bahwa tiga anggota keluarganya tewas di sana, dan dalam serangan lain, lebih dari 20 umat Kristen menjadi korban. Jumlah jemaat yang hadir pada kebaktian Paskah tahun ini menurun drastis karena banyak yang sudah meninggalkan Gaza.

Doa tanpa pesta : bertahan sebagai bentuk perlawanan

“Kami hanya melaksanakan ibadah doa, menolak untuk merayakan demi menghormati para martir kami,” kata Fouad kepada Al Jazeera. Pernyataan itu mencerminkan sikap komunitas yang memilih keheningan sebagai bentuk solidaritas.

Makna penemuan kubur kosong dalam Lukas 24 :1-12 — tentang harapan di tengah keputusasaan — terasa begitu nyata bagi mereka yang bertahan di Gaza. Iman menjadi satu-satunya pegangan.

Tokoh Usia Kondisi
Fouad Ayad 31 tahun Mengungsi, tidak menemukan telur Paskah
Elias al-Jelda 60 tahun Rumah hancur, berlindung di gereja
Amal al-Masri 74 tahun Tiga kali mengungsi di selatan Gaza

Pada minggu lalu, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, sempat dihalangi polisi Israel memasuki Gereja Makam Kudus sebelum keputusan itu dibatalkan akibat tekanan internasional. Insiden ini mempertegas bahwa pembatasan akses keagamaan bukan hanya dialami warga Gaza, tetapi juga para pemimpin Gereja kelas dunia. Selama genosida berlanjut, tidak ada Paskah yang bisa dirayakan dengan tulus.

Umat Kristen Gaza tolak rayakan Paskah di tengah genosida yang terus berlangsung

Agung
Scroll to Top