Trump tantang Paus : Lawan yang tak bisa dipecat

Dua pria berdiri di halaman basilika berarsitektur klasik

Tingkat persetujuan Trump mencapai 34% dalam survei Pew terbaru — terendah sepanjang masa jabatan keduanya. Di tengah krisis ekonomi akibat perang Iran yang mendorong harga bensin melampaui $4 per galon dan inflasi kembali ke 3,3%, satu sosok muncul yang tidak bisa dipecat, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa disingkirkan : seorang paus Amerika.

Robert Francis Prevost, lahir di Chicago, kini memimpin institusi tertua di bumi sebagai Paus Leo XIV. Ia bukan orang Eropa yang dituduh anti-Amerika. Ia bukan orang Amerika Latin yang dianggap berideologi kiri. Ia adalah salah satu dari mereka — dan itulah yang membuat Trump tidak punya ruang gerak.

Dua mimpi Amerika yang saling bertabrakan

Trump membangun MAGA di atas versi Amerika yang nasionalis, defensif secara kultural, dan berorientasi dominasi. Leo XIV membawa narasi yang berbeda dari negara yang sama : Amerika sebagai kekuatan moral global, bukan mesin militer unilateral. Massimo Faggioli, profesor eklesiologi di Villanova University, menyebutnya langsung kepada Fortune : “Ia dipercaya ketika berbicara soal Amerika dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Italia, Jerman, atau Polandia.”

Sebelum menjadi paus, Leo menghabiskan bertahun-tahun sebagai misionaris di Peru. Pengalamannya di Amerika Latin tidak menjadikannya anti-AS — justru sebaliknya, ia memurnikan pandangannya tentang Amerika. Christopher White dari Georgetown University menegaskan bahwa Leo “tidak mencari konflik dengan presiden” — Trump-lah yang mengeskalasi situasi dengan menyebut paus “lemah soal kejahatan” dan “buruk untuk kebijakan luar negeri” di media sosial.

Berikut perbandingan persepsi publik AS terhadap keduanya berdasarkan survei terbaru :

Tokoh Favorabilitas positif Favorabilitas negatif
Paus Leo XIV 42% 8%
Donald Trump 41% 53%

Jarak net favorabilitas antara keduanya mencapai 34 poin — angka yang berbicara sendiri.

Kontradiksi fatal di jantung Katolisisme MAGA

Tidak ada yang merasakan kontradiksi ini lebih dalam dari JD Vance. Wakil Presiden yang berpindah ke Katolisisme pada 2019 ini selama ini mengidentifikasi dirinya dengan integralism Katolik — pandangan bahwa doktrin sosial Gereja harus membentuk kehidupan publik. Tapi ketika Leo angkat bicara soal perang Iran, Vance justru menyuruh Vatikan untuk diam dan “fokus pada moralitas”.

Faggioli mengurai kontradiksinya dengan tajam : “Ketika kamu seorang integralis yang menyuruh Paus tutup mulut, kamu baru saja menghancurkan argumenmu sendiri.” White menambahkan bahwa Vance sebelumnya memuji Yohanes Paulus II karena menggunakan otoritas moralnya menentang perang Irak — tapi kini berbalik arah saat paus yang sama prinsipnya menentang perang yang diluncurkan administrasinya sendiri.

  • Marco Rubio memilih diam — dianggap lebih cerdas secara politis
  • JD Vance menyerang balik — dan kehilangan kredibilitas teologisnya
  • Para uskup AS justru bersatu di belakang Leo dengan cara yang tidak pernah terjadi pada Paus Fransiskus

Persoalan ini bukan sekadar perseteruan personal. Pentagon disebut mengundang nunsius kepausan ke gedung Departemen Pertahanan — bukan Gedung Putih — sebuah langkah yang Faggioli sebut “sangat tidak wajar, dipilih untuk mengirim pesan.” Latar belakang ketegangan ini mencakup krisis internal yang dihadapi Paus Leo XIV dari kelompok Katolik tradisional yang bertindak di luar wewenangnya.

Yang paling mengkhawatirkan Roma adalah framing religius perang Iran : Pete Hegseth meminta doa untuk kemenangan militer “atas nama Yesus Kristus” dan membandingkan penyelamatan pilot dengan kebangkitan Kristus. Vatikan melihat ini sebagai ancaman nyata — narasi perang salib yang bisa menjadikan Kekristenan identik dengan ekspansionisme militer. Satu survei YouGov mencatat 48% warga Amerika mendukung posisi Leo soal Iran, versus hanya 28% yang mendukung Trump dan Vance. Di kalangan independen, selisihnya lebih ekstrem : 50% versus 15%.

Trump tantang Paus : Lawan yang tak bisa dipecat

Rian Pratama
Scroll to Top