Tuhan dan Bitcoin : Mengapa beberapa orang Kristen mempromosikan kripto di gereja

Pria berbicara dengan hologram cahaya di gereja megah.

Di Amerika Serikat, sebuah fenomena baru tengah berkembang di komunitas Kristen : promosi mata uang kripto di lingkungan gereja. Todd dan Janet Gatewood, pasangan dari Nashville, meluncurkan program radio mereka “God, Freedom and Bitcoin” pada Januari lalu. Bagi mereka, bitcoin bukan sekadar aset finansial, melainkan jalan menuju keseimbangan antara iman dan kehidupan sehari-hari.

Ketika harga bitcoin anjlok hampir 45% dari puncaknya di angka $126.000, Janet justru menyebut situasi ini sebagai “obral besar.” Sebagai agen properti, ia berharap menutup lebih banyak transaksi rumah agar bisa membeli lebih banyak bitcoin di harga rendah. Prinsip “beli saat harga turun” menjadi mantra yang ia sebarkan kepada para pendengarnya.

Kripto masuk ke dalam gereja : antara iman dan peluang finansial

Komunitas Kristen yang terlibat dalam dunia kripto tidaklah homogen. Beberapa tokoh terkemuka membentuk lanskap ini dengan pendekatan berbeda :

Tokoh Peran Pendekatan
Jimmy Song Developer bitcoin, penulis Mendukung bitcoin sebagai pelarian dari inflasi
Michelle Renee CEO In4ormative Services Workshop kripto berbasis kesaksian iman
Jordan Bush Pendiri Thank God for Bitcoin Edukasi gereja, tolak proyek kripto meragukan
Pastor Lorenzo Sewell Pendeta nondenominasi Meluncurkan meme coin setelah berdoa di inaugurasi Trump

Jimmy Song, yang memiliki lebih dari 354.000 pengikut di X, berargumen bahwa bitcoin menarik bagi umat Kristen yang khawatir terhadap inflasi dan kebijakan Federal Reserve. Ia melihat mata uang digital sebagai cara keluar dari ketidakpastian sistem keuangan konvensional. Sebaliknya, Michelle Renee membuka workshop di gereja Chicago, mengawali sesi dengan kesaksian pribadinya tentang pemulihan dari stroke. “Takdir saya adalah memimpin umat Tuhan menuju kekayaan,” katanya kepada peserta.

Beberapa alasan mengapa umat Kristen tertarik pada aset digital ini cukup beragam, di antaranya :

  • Ketakutan terhadap de-banking karena keyakinan politik atau agama
  • Keyakinan eskatologis dan tafsiran nubuat Alkitab
  • Kebutuhan saluran tersembunyi untuk mendukung misionaris
  • Keinginan membangun kekayaan demi lebih banyak waktu beribadah

Fenomena ini juga bersinggungan dengan dunia politik. Seperti yang dibahas dalam konteks perjalanan spiritual tokoh Kristen konservatif yang menyatukan kekristenan dan politik, batas antara iman dan agenda politik kerap kabur. Presiden Donald Trump, yang meraih suara mayoritas evangelis pada 2024, turut mempromosikan kripto termasuk peluncuran meme coin miliknya sendiri.

Risiko nyata di balik semangat rohani terhadap aset digital

Antusiasme terhadap investasi kripto berbasis iman tidak lepas dari kontroversi. Di Colorado, jaksa mendakwa seorang pendeta yang menggelapkan lebih dari $1,3 juta dari investasi jemaat melalui proyek kripto fiktif. William Schultz dari Universitas Chicago memperingatkan bahwa komunitas keagamaan rentan terhadap penipuan karena ikatan kepercayaan yang kuat di antara anggotanya.

Jebb McAfee, YouTuber Kristen dengan 248.000 pelanggan, menghadapi kritik tajam dari penontonnya setelah prediksinya meleset. Dave Ramsey, pakar keuangan Kristen terkemuka, tetap skeptis dan menyamakan investasi kripto dengan membeli Beanie Babies. Ia pernah menegur seorang penelepon yang mengklaim Tuhan mendorongnya berinvestasi kripto : “Mungkin ada roh, tapi bukan yang kudus.”

Meski demikian, bagi Dorothy Hill, pensiunan berusia 72 tahun yang baru mengenal kripto, penurunan harga justru terasa seperti kesempatan dari Tuhan. Ia belum melakukan pembelian, namun terus belajar dan menyisihkan dana. “Saya hanya akan menginvestasikan apa yang sanggup saya tanggung kehilangannya,” ujarnya dengan bijak. Sikap hati-hati seperti ini menjadi pengingat penting di tengah gelombang antusiasme kripto yang menyapu komunitas gereja di seluruh Amerika.

Tuhan dan Bitcoin : Mengapa beberapa orang Kristen mempromosikan kripto di gereja

Agung
Scroll to Top