Andy Burnham pernah menyatakan bahwa tiga hal paling penting dalam hidupnya, selain keluarga, adalah Everton FC, Partai Buruh, dan Gereja Katolik, dalam urutan tersebut. Kutipan dari wawancara dengan The Guardian tahun 2009 itu kini telah ia sendiri sematkan kata pengantar : “Dulu saya berkata…” Pergeseran kecil dalam bahasa ini justru mengungkapkan banyak hal tentang perjalanan spiritual seorang politisi yang kini berambisi menjadi Perdana Menteri.
Akar Katolik yang kuat, keyakinan yang memudar
Tidak ada yang bisa meragukan bahwa latar belakang Katolik Burnham bersifat nyata dan mendalam. Ibunya, Eileen, membesarkannya dalam iman tersebut. Ia mantan altar boy, dan ibunya pernah bercerita kepada Mirror pada 2015 bahwa Andy selalu bersikeras berdiri di barisan depan saat membawa piring Komuni. Bukan sekadar Katolisisme budaya yang dangkal, melainkan bagian dari identitas keluarga Lancashire yang penuh tradisi martir. St Edmund Arrowsmith, santo pelindung sekolah anak-anaknya sendiri, digantung dan dieksekusi di Lancaster pada 1628 dengan kalimat terakhir : “Saya mati sebagai seorang Katolik Roma yang teguh demi Kristus.” Warisan semacam itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Namun Burnham sendiri mengakui bahwa imannya mulai goyah selama masa kepausan Benediktus XVI. Ia merasa Gereja bergeser ke arah yang lebih menghakimi, lebih terobsesi dengan isu seksualitas. Yang menarik adalah ia tampaknya tidak pernah benar-benar membaca ensiklik-ensiklik Benediktus. Dalam Caritas in Veritate, salah satu dokumen terbaik Benediktus, seksi 25 dengan jelas menyatakan bahwa modal utama yang harus dijaga adalah manusia itu sendiri, dalam integritasnya. Jauh dari obsesi seksual yang Burnham tuduhkan.
Sebaliknya, ia justru mengagumi Paus Fransiskus. Pada 2023, Burnham mengunjungi Vatikan dan menyerahkan jersey Manchester United kepada sang Paus. Pilihan ini memang menghangatkan hati, tetapi sulit untuk tidak melihat bahwa kekaguman itu lebih bersifat politik daripada teologis.
| Aspek | Posisi Burnham |
|---|---|
| Praktik keagamaan | Misa sesekali, tidak rutin |
| Kepercayaan kepada Tuhan | Tidak yakin Tuhan ada |
| Penilaian terhadap Benediktus XVI | Negatif, dianggap menghakimi |
| Penilaian terhadap Paus Fransiskus | Positif, dianggap humanis |
Ketika iman setengah-setengah bertemu kebijakan publik
Masalahnya bukan sekadar soal seberapa sering Burnham hadir di misa. Masalahnya adalah bagaimana Katolisisme setengah hati ini berdampak nyata pada posisi politiknya. Ambil contoh isu aborsi. Majalah Cosmopolitan mencatat dengan bangga bahwa Burnham secara konsisten menolak amandemen pembatasan aborsi dalam perdebatan Human Fertilisation and Embryology Bill tahun 2008, termasuk batas waktu yang lebih rendah dari 24 minggu, usia di mana sebagian bayi yang lahir prematur bisa bertahan hidup dalam inkubator.
Bagi mereka yang ingin memahami apa yang hilang ketika seseorang meninggalkan agama Katolik, kasus Burnham menjadi studi yang sangat relevan. Berikut beberapa posisi kebijakan yang mencerminkan pergeseran tersebut :
- Mendukung hak reproduksi perempuan yang lebih luas
- Bersikap pragmatis terhadap assisted suicide (eutanasia berbantuan)
- Tidak menentang kebijakan yang secara langsung bertentangan dengan ajaran Gereja
Burnham mengatakan ia tidak menentang eutanasia berbantuan secara prinsip, asalkan perawatan paliatif tersedia secara memadai. Ini terdengar bijak, tetapi justru di sinilah akar Katoliknya seharusnya bekerja : memperingatkan bahwa orang yang merasa menjadi beban bagi keluarganya mungkin akan merasa terdorong untuk mengakhiri hidupnya lebih cepat. Diane Abbott, yang bukan Katolik, justru menyuarakan kritik paling efektif terhadap hal ini dalam debat parlemen terakhir. Ironi yang cukup tajam untuk tidak diabaikan.
- Andy Burnham’s Catholicism : Analisis Mendalam - 30 Juni 2026
- Talarico sebut diri “Kristen membenci Kekristenan - 25 Juni 2026
- Paus di Angelus ajak umat cinta daripada benci - 22 Juni 2026




