Kristenitas di AS : sejarah klaim agama atas negara

Kerumunan orang berkumpul di tangga Gedung Kapitol saat matahari terbenam

Mei 2026. Mike Johnson, Ketua DPR Amerika Serikat, berdiri di Washington D.C. dan memproklamasikan : “Kami mendedikasikan kembali Amerika Serikat sebagai satu bangsa di bawah Tuhan.” Di hadapannya, para pemimpin agama dari tradisi evangelis berkumpul, sementara Donald Trump muncul dalam video rekaman membacakan kitab 2 Korintus. Bagi sebsebagian orang, momen ini tampak seperti puncak kepercayaan diri. Bagi sejarawan, ini adalah pola yang sangat familiar.

Klaim bahwa Amerika adalah bangsa Kristen bukan fenomena baru. Ini adalah respons berulang terhadap ketakutan eksistensial, bukan ekspresi kemenangan. Setiap kali fondasi sosial terasa goyah, retorika keagamaan memasuki ruang publik dengan lebih keras dari sebelumnya.

Perang saudara dan upaya pertama mengklaim Amerika untuk Tuhan

Tahun 1861. Amerika terpecah dalam Perang Saudara, dan kedua pihak, Utara maupun Selatan, berebut legitimasi ilahi. Konstitusi Konfederasi secara eksplisit menyebut keinginan untuk mendapat “restu dan bimbingan Allah Yang Mahakuasa.” Di pihak Utara, pendeta Pennsylvania bernama M.R. Watkinson berhasil melobi agar referensi kepada Tuhan dicantumkan pada koin. Ia percaya bahwa bangsa itu bersalah karena “mengingkari Tuhan.”

Tiga tahun kemudian, sekelompok denominasi Protestan mendorong amandemen konstitusi yang akan menyatakan Amerika sebagai “pemerintahan Kristen.” Amandemen itu gagal, tetapi gerakannya membuktikan satu hal : krisis politik yang dalam selalu memunculkan dorongan untuk menyematkan nama Tuhan pada negara.

Setelah perang, tekanan baru datang dari gelombang imigran Katolik dan Yahudi serta meningkatnya ateisme di kalangan intelektual muda. Pada 1873, Hakim Agung William Strong memperingatkan bahwa tanpa konstitusi yang “secara eksplisit Kristen,” agama Kristen akan “terhapus” dari seluruh institusi Amerika. Usulan amandemen mereka bahkan menyebut Alkitab sebagai “aturan tertinggi bagi perilaku bangsa-bangsa”, sebuah frasa yang jelas-jelas mengecualikan umat Katolik dari narasi tersebut.

Periode Ancaman yang dirasakan Respons keagamaan
1861-1865 Perang Saudara, disintegrasi nasional Usulan amandemen konstitusi Kristen, tulisan Tuhan di koin
1870-an Imigrasi, ateisme intelektual Kampanye amandemen Alkitab sebagai hukum tertinggi
1950-an Komunisme Soviet, Perang Dingin “Under God” di Pledge of Allegiance, “In God We Trust” di mata uang

Perang Dingin dan ketakutan yang mengukir frasa “under God”

Tahun 1954 menjadi tonggak penting. Presiden Dwight Eisenhower menandatangani undang-undang yang menyisipkan frasa “under God” ke dalam Pledge of Allegiance. Setahun kemudian, frasa “In God We Trust” resmi tercetak di seluruh mata uang Amerika. Bagi sponsor undang-undang tersebut, anggota DPR Charles Bennett, Amerika “didirikan dalam atmosfer spiritual.” Bagi para sejarawan seperti Kevin M. Kruse, motivasinya lebih kompleks.

Kruse menunjukkan bahwa aliansi antara pemimpin bisnis konservatif dan pendeta menggunakan retorika keagamaan untuk melawan program New Deal Roosevelt yang memperluas peran pemerintah federal. Mereka menghubungkan nilai-nilai “iman, kebebasan, dan pasar bebas” di bawah satu payung : Amerika sebagai bangsa di bawah Tuhan. Ini bukan teologi, ini adalah strategi politik.

Pertanyaan tentang negara Kristen mana yang sedang kita bela dan lindungi bukan hanya relevan di Amerika, tapi juga menyentuh dinamika geopolitik yang lebih luas. Klaim keagamaan atas identitas nasional selalu punya dimensi pertahanan, baik literal maupun simbolis.

Yang menarik dari pola historis ini : setiap gelombang klaim Kristen atas Amerika muncul bukan saat umat Kristen merasa kuat, melainkan saat mereka merasa terancam kehilangan pengaruh. Peserta doa “Rededicate 250” di Mei 2026 pun mengakui ini secara jujur : “Jika kita kehilangan iman ini, seluruh negara akan runtuh.” Itulah ketakutan yang sesungguhnya menggerakkan sejarah ini, bukan keyakinan.

Kristenitas di AS : sejarah klaim agama atas negara

Rian Pratama
Scroll to Top