Cerita tersembunyi Katolik LGBTQ Tiongkok

Wanita Asia berdoa dengan rosario di gereja bergaya gotik.

Pada Juli 2013, di atas pesawat yang membawanya kembali ke Roma dari Rio de Janeiro, Paus Fransiskus mengucapkan kalimat yang kemudian menggetarkan ribuan hati : “Siapa saya untuk menghakimi ?” Bagi komunitas Katolik LGBTQ+ di Tiongkok daratan, kata-kata itu bukan sekadar pernyataan teologis. Mereka menerimanya seperti cahaya kecil yang menembus kegelapan panjang.

Selama bertahun-tahun, umat Katolik Tongzhi (同志), istilah Mandarin yang merujuk pada komunitas LGBTQI+, menjalani iman mereka dalam diam. Terjepit antara tekanan budaya Konfusianisme yang kuat dan ajaran Gereja yang diam soal orientasi seksual, banyak dari mereka merasa sendirian. Bukan karena pilihan, melainkan karena tidak ada ruang lain yang tersedia.

Dari Beijing ke komunitas : perjalanan iman yang tersembunyi

Segalanya bermula secara sederhana. Pada 2009, di Beijing, sebuah kelompok ekumenis kecil bernama China Rainbow Witness Fellowship dibentuk untuk saling menopang sesama Kristen minoritas seksual. Awalnya, hampir tidak ada umat Katolik di sana. Norma budaya yang mengakar dan kesunyian Gereja membuat banyak orang memilih bersembunyi.

Empat tahun berselang, pada 2013, lahirlah China Catholic Rainbow Community, sebuah komunitas yang memberikan ruang spiritual berbasis tradisi Katolik. Mereka membentuk kelompok doa daring dan mengadakan pertemuan tatap muka di kota-kota seperti Shanghai. Beberapa imam dan biarawati yang penuh belas kasih bersedia menanggung tekanan demi menyediakan tempat berkumpul. Umat gay dan lesbian dalam komunitas ini melayani sebagai misdinar dan lektor, mendedikasikan hidup mereka pada pelayanan Gereja.

Tekanan dari suara-suara konservatif akhirnya memaksa pertemuan di gedung Gereja dihentikan. Namun komunitas ini tidak pernah benar-benar bubar.

Berikut gambaran lintas latar belakang para anggota komunitas ini :

Latar belakang Tantangan utama
Pemuda perkotaan Tekanan keluarga soal keturunan
Umat pedesaan Isolasi identitas di lingkungan tradisional
Seminaris Menyeimbangkan identitas dan panggilan hidup bakti
Pastor paroki Berani menyuarakan penghormatan pada minoritas seksual

Pada Oktober 2015, sebuah delegasi Tiongkok hadir di Roma dalam sidang pendirian Global Network of Rainbow Catholics. Saat itulah suara-suara Katolik Pelangi dari Tiongkok resmi bergabung dengan denyut pastoral Gereja universal.

Buku sebagai saksi hidup : suara yang akhirnya tertulis

Lebih dari 50 kisah nyata dikumpulkan dari berbagai provinsi Tiongkok daratan, juga dari Hong Kong, Taiwan, Makau, hingga diaspora Tionghoa di Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Australia, dan Kanada. Hasilnya, pada Januari 2018, sebuah buku diterbitkan di Malaysia dengan judul May Your Lips Kiss Mine. Judulnya diambil dari baris pertama Kidung Agung dalam Perjanjian Lama, mengungkapkan kerinduan mendalam akan pelukan Gereja.

Buku itu menjadi catatan sejarah pertama di dunia berbahasa Mandarin di mana umat Katolik gay dan lesbian menuliskan narasi mereka sendiri. Bukan karangan orang luar, bukan analisis akademis. Ini suara orang-orang yang menangis di ruang pengakuan dosa, yang bergantung pada satu layar komputer untuk menemukan rasa persekutuan.

Edisi bahasa Inggris terbit pada 2022 dengan judul Blessed Are Those Who Mourn, terinspirasi dari Matius 5 :4. Judul itu dipilih dengan cermat karena menangkap kondisi spiritual umat Katolik Tongzhi secara tepat : dukacita atas ketidakmampuan untuk terbuka kepada keluarga, rasa terpinggirkan di paroki, dan keraguan diri yang mengakar. Namun seperti janji Kristus, dukacita itu bukan titik akhir.

Untuk memahami lebih luas bagaimana Gereja merespons komunitas yang terpinggirkan, kisah seperti umat Katolik yang menghormati martir yang baru dibeatifikasi Vatikan memberi perspektif penting tentang iman yang bertahan di tengah tekanan.

Satu hal yang menjadi keyakinan kuat komunitas ini : umat Katolik LGBTQ+ bukan orang asing dalam Gereja. Mereka adalah anggota Tubuh Mistik Kristus, menanggung luka namun penuh kekuatan. Perjalanan melalui padang gurun belum selesai. Tapi mereka percaya, Tuhan sudah menunggu di seberang jembatan.

Cerita tersembunyi Katolik LGBTQ Tiongkok

Agung
Scroll to Top