Sepak bola dan iman : apakah evangelikalisme merugikan Brasil ?

Pria memakai jersey sepak bola di gereja dengan stadion.

Brasil tersingkir dari Piala Dunia FIFA 2026, dan gelombang komentar di media sosial langsung menyasar satu sasaran : keyakinan evangelikal para pemain. Beberapa pendukung menulis bahwa tim jauh lebih baik ketika pemainnya “masih berperilaku seperti umat Katolik,” dan bahwa pengaruh Protestantisme evangelikal telah “meratakan permainan bola, menghancurkan samba, dan menghapus gaya mereka.” Sarkasme atau bukan, komentar ini mencerminkan pergeseran religius yang nyata di Amerika Latin.

Faktanya, kaum Protestan (dikenal sebagai evangélicos) kini mencakup sekitar 11 persen populasi Amerika Latin. Lebih signifikan lagi, gerakan Pentakostal dan Karismatik mewakili sekitar 30 persen penduduk kawasan, dengan kurang lebih 195 juta penganut. Pada 2026, jumlah penganut Kristen Pentakostal dan Karismatik secara global mencapai 676 juta jiwa, yakni satu dari empat orang Kristen di seluruh dunia. Angka ini diproyeksikan menembus 1,1 miliar pada 2075. Fenomena ini bukan sekadar statistik agama; ia membentuk ulang budaya, politik, bahkan… sepak bola.

Akar evangelikalisme Brasil : dari Azusa Street hingga São Paulo

Gerakan Pentakostal di Brasil lahir dari dua misi awal yang berakar pada Kebangkitan Azusa Street 1906 di Los Angeles. Misionaris Italia Luigi Francescon mendirikan Congregação Cristã do Brasil di São Paulo pada 1910 untuk melayani komunitas imigran Italia. Sementara itu, pada 1911, dua misionaris Swedia, Daniel Berg dan Adolf Gunnar Vingren, mendirikan misi di Belém yang kelak berkembang menjadi Assemblies of God dan menyebar ke seluruh negeri.

Perkembangan paling dramatis datang dari Gereja Universal Kerajaan Allah, yang didirikan oleh Edir Macedo pada 1977. Denominasi Neo-Pentakostal ini beroperasi seperti jaringan bisnis global di lebih dari 100 negara, didukung oleh media massa dan jaringan televisi nasional. Gedung Bait Salomo di São Paulo, setinggi 55 meter dengan kapasitas 10.000 jemaat, menjadi simbol ambisi dan skala gerakan ini. Di Amerika Latin, pergerakan serupa bermula dari kebangunan rohani 1909 yang dipimpin Willis Hoover, misionaris Methodist Amerika di Valparaíso, Chile. Saat ini Brasil menampung 105 juta penganut Pentakostal dan Karismatik.

Mengapa orang tertarik pada gereja-gereja ini ? Penjelasan sederhananya : mereka menawarkan pengalaman religius yang intens, fisik, dan personal. Karunia Roh seperti berbicara dalam bahasa roh (glossolalia), penyembuhan, dan nubuat memberikan dimensi spiritual yang terasa konkret, bukan sekadar doktrin abstrak. Bagi kalangan miskin dan termarginalkan, ini menjadi daya tarik yang sulit ditolak, mirip dengan tradisi Afro-Brasil yang juga menekankan pengalaman tubuh. Hal ini menarik untuk dibandingkan dengan fenomena serupa di kalangan tokoh teknologi global; para pemimpin Silicon Valley yang beralih ke agama Kristen juga mencari pengalaman spiritual yang autentik melampaui logika duniawi.

Lapangan hijau dan mimbar : dua panggung yang bersaing

Sepak bola profesional dan gereja Pentakostal di Brasil bersaing memperebutkan perhatian publik yang sama dengan strategi yang hampir identik :

  • Penggunaan media massa dan konten digital berskala besar
  • Merchandise bermerek dan identitas komunal yang kuat
  • Venue raksasa sebagai ruang katarsis emosional kolektif
  • Figur karismatik sebagai magnet loyalitas massa

Pemain seperti Kaká, Lúcio, dan Edmílson membawa iman evangelikal mereka ke Piala Dunia 2002 di Korea Selatan, dan Brasil justru menjadi juara. Artinya, evangelikalisme bukan variabel tunggal penentu performa tim. Yang lebih menarik adalah bagaimana para pemain berfungsi sebagai bukti hidup teologi kemakmuran : iman plus kerja keras menghadirkan berkat Tuhan berupa kesuksesan materi dan atletik.

Ketegangan muncul justru di akar rumput. Evangelisme agresif kaum Pentakostal sering memicu konflik terbuka dengan komunitas Afro-Brasil yang memiliki tradisi spiritual sendiri. Pertanyaan sebenarnya bukan apakah iman mengacaukan sepak bola, melainkan apakah gereja-gereja Pentakostal kini menawarkan pengalaman komunitas dan dukungan personal yang lebih kuat dari budaya sepak bola itu sendiri kepada para pemain maupun pendukungnya.

Sepak bola dan iman : apakah evangelikalisme merugikan Brasil ?

jose
Scroll to Top