Ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Paus Leo XIV memantik reaksi keras dari umat Katolik di seluruh Amerika Serikat, termasuk di Bucks County, Pennsylvania. Konflik ini bermula ketika sang paus mengkritik serangan militer AS terhadap Iran. Trump langsung membalas dengan menyebut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu lemah dalam soal kejahatan dan “buruk untuk kebijakan luar negeri” — sebuah eskalasi verbal yang jarang terjadi antara seorang presiden Amerika dan Vatikan.
Bucks County bukan sekadar latar biasa dalam cerita ini. Lebih dari 30% penduduknya beragama Katolik, dan pada 2024, Trump berhasil memenangkan wilayah ini dengan selisih hanya beberapa ratus suara — setelah Hillary Clinton dan Joe Biden masing-masing meraih kemenangan di sini pada 2016 dan 2020. Dengan kata lain, komunitas Katolik setempat memiliki bobot elektoral yang nyata.
Suara dari bangku gereja St. Michael the Archangel
Pada Minggu pagi di gereja St. Michael the Archangel di Levittown, banyak jemaat yang baru saja membaca atau mendengar berita soal konfrontasi tersebut. Mike Bolli, yang pernah memilih Trump pada 2016 sebelum berbalik arah, tak menyembunyikan kekecewaannya. “Sungguh tidak pantas bicara kepada paus seperti itu,” ujarnya. Menurutnya, Trump seharusnya meminta maaf — meski ia ragu hal itu akan terjadi.
Cassandra Thornton justru lebih menyentuh hati. Ia termasuk pemilih yang membantu Trump menang di Bucks County pada 2024, namun serangan terhadap paus membuatnya mempertanyakan kembali pilihannya. “Saya pikir ia telah melampaui batas,” katanya terus terang. Thomas Black, tunangannya yang baru kembali dari dinas militer aktif, menambahkan bahwa Iran memang ancaman nyata — tetapi posisi perdamaian paus adalah pandangan Katolik yang sah dan tidak seharusnya diserang.
Tak semua jemaat berpendapat sama. Bob Gabriel, yang sudah beribadah di gereja itu sejak 1969, membela Trump dan keputusan pemboman Iran. Baginya, komentarlah Paus Leo yang terlalu politis dan kurang matang. Ia tetap mendukung sang presiden.
| Nama | Posisi terhadap Trump | Pandangan soal konflik |
|---|---|---|
| Mike Bolli | Mantan pendukung, kini menentang | Trump harus meminta maaf |
| Cassandra Thornton | Memilih Trump 2024, kini ragu | Trump melanggar batas |
| Bob Gabriel | Masih mendukung Trump | Paus yang terlalu politis |
Dampak politik dan suara para pemimpin Katolik
Representatif kongres Bucks County, Brian Fitzpatrick — seorang Katolik praktikan — mengecam serangan Trump secara terbuka. Ia menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap Gereja dan penistaan bagi banyak umat beriman.” Fitzpatrick memenangkan 56% suara Bucks County pada 2024, namun kini dianggap sebagai salah satu petahana Republik paling rentan menjelang pemilu sela 2026.
Kelsey Reinhardt dari kelompok advokasi konservatif CatholicVote mengakui bahwa reaksi umat sangat luar biasa — bahkan di kalangan pendukung Trump. Ia mengingatkan bahwa Vatikan selalu menyerukan perdamaian di masa perang, dan bahwa konteks penting yang hilang membuat situasi terlihat lebih panas dari seharusnya. Menurutnya, pertanyaan sesungguhnya bukan soal kepribadian, melainkan kebijakan konkret.
Umat Katolik di seluruh AS yang menentang kebijakan deportasi massal Trump juga menunjukkan bahwa gesekan ini bukan insiden tunggal — ini bagian dari pola yang lebih luas. Menurut laporan Pew Research Center, Trump memenangkan suara umat Katolik dengan selisih 12 poin pada 2024. Angka itu kini berada di bawah tekanan :
- Pemilih Katolik memiliki tingkat partisipasi lebih tinggi dibanding kelompok lain
- Bucks County memiliki lebih dari 30% penduduk Katolik
- Pemilu sela 2026 masih beberapa bulan lagi, namun sentimen sudah bergerak
Frankly, satu pernyataan impulsif bisa mengikis modal elektoral yang dibangun bertahun-tahun. Reinhardt benar : masih terlalu dini untuk memastikan dampak penuhnya — tetapi tanda-tandanya sudah terlihat jelas di bangku-bangku gereja Levittown.




