Hampir seribu tahun lalu, Raja Henry IV berdiri tanpa alas kaki di salju Italia untuk memohon pengampunan setelah berseteru dengan Paus Gregorius VII. Kini, di tahun 2026, pertarungan serupa muncul kembali — kali ini antara Paus Leo XIV dan Presiden Donald Trump. Bagi puluhan umat Katolik Amerika yang diwawancarai USA TODAY Network, paus asal Chicago ini tampil sebagai figur yang tidak gentar menghadapi tekanan politik dari Washington.
Leo XIV terpilih dalam konklaf bersejarah 7-8 Mei 2025. Setahun kemudian, survei Reuters/Ipsos menunjukkan 60% warga Amerika menyetujui kepemimpinannya, sementara lebih dari dua pertiga umat Katolik AS memberikan penilaian positif dalam jajak pendapat November lalu. Angka-angka ini berbicara sendiri — tidak banyak pemimpin dunia yang mampu mempertahankan popularitas setinggi itu di tengah konflik terbuka dengan seorang presiden Amerika.
Leo XIV vs Trump : gesekan yang mengguncang dunia Katolik
Ketegangan memuncak setelah Leo XIV secara terbuka mengecam pernyataan Trump soal penghancuran “seluruh peradaban” dalam konteks perang Iran-Israel. Trump membalas dengan menyebut sang paus lemah dalam kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri. Wakil Presiden JD Vance, seorang Katolik konversi, bahkan meminta paus untuk “berhati-hati” saat berbicara soal teologi. Konfrontasi ini dianggap banyak pengamat sebagai bentrokan paling panas antara kepausan dan pemimpin dunia sejak abad pertengahan.
Jacob Adams, 25 tahun, mahasiswa di Villanova — kampus tempat Leo lulus pada 1977 — menyambut sikap tegas paus itu. Adams, mantan evangelikal yang pernah mendukung Trump di 2020 dan 2024, kini beralih pandangan. “Kanan atau kiri, ada orang-orang yang menyerukan perdamaian,” katanya. John Cavadini, direktur McGrath Institute for Church Life di Universitas Notre Dame, menegaskan bahwa kritik Leo tidak merusak kredibilitasnya karena “datang dari tempat yang tulus secara pastoral.”
Berikut beberapa posisi utama yang memperlihatkan perbedaan antara keduanya :
- Perang Iran-Israel : Leo menuntut gencatan senjata, Trump membenarkan eskalasi militer
- Imigrasi : Leo mendukung pengungsi dan imigran, Trump memperketat kebijakan deportasi
- Kemiskinan global : Leo memprioritaskan kaum terpinggirkan, bertolak belakang dengan retorika kebijakan dalam negeri Trump
Satu tahun kepausan : harapan baru umat Katolik Amerika
Di luar konflik politik, umat Katolik merasakan sesuatu yang berbeda dari Leo XIV. Bukan sekadar penerus Fransiskus — melainkan figur yang lebih terukur, lebih presisi, namun tidak kalah berani. Nicholas Hayes-Mota dari Santa Clara University menyebutnya membawa “gereja yang bergerak dengan mendengarkan anggotanya.” Sementara Brian Dimatteo dari New Jersey berpendapat Fransiskus sempat membawa gereja terlalu jauh dari fondasi Alkitab, sedangkan Leo “membawa kita kembali ke utara sejati.”
| Aspek | Paus Fransiskus | Paus Leo XIV |
|---|---|---|
| Gaya kepemimpinan | Spontan, informal | Terukur, deliberatif |
| Pendekatan doktrin | Progresif, membuka ruang abu-abu | Tegas, menjaga tradisi |
| Daya tarik generasi muda | Tinggi melalui gestur viral | Tinggi karena kedekatan budaya |
Leo dikenal mencintai tim baseball White Sox dan permen Peeps — detail kecil yang justru memperkuat rasa memiliki umat Katolik Amerika. Teresa Iannitello, mahasiswi 19 tahun di University of Wisconsin-Milwaukee, mengaku terkejut pertama kali mendengar suara paus. “Oh astaga — dia terdengar seperti aku,” katanya. Enciklik besar pertamanya, yang diantisipasi membahas etika kecerdasan buatan, siap dirilis dalam waktu dekat. Itu akan menjadi ujian nyata sejauh mana Leo XIV mampu mendefinisikan warisannya sendiri — bukan sekadar bayangan Fransiskus, bukan pula boneka politik siapa pun.
- Pelajaran 1964 : apa yang dipelajari Katolik - 13 Mei 2026
- Paus : Kristen dan Muslim harus bersatu - 12 Mei 2026
- Acara doa Trump Rededicate 250 : fokus Kristen - 6 Mei 2026




