Setiap Senin dan Selasa, Paus Leo XIV meninggalkan Vatikan menuju Castel Gandolfo, sebuah kota abad pertengahan di tepi danau yang sudah menjadi tempat retret para paus sejak 1626. Di sana, ia bermain tenis, berenang, dan berkuda sebelum kembali ke Roma. Bukan sekadar pelarian dari terik musim panas Italia, kebiasaan ini mengandung pesan teologis yang dalam bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Leo XIV bahkan memulihkan tradisi papal yang sempat ditinggalkan selama 12 tahun masa kepemimpinan Paus Fransiskus : menginap beberapa minggu di Apostolic Palace Castel Gandolfo. Selama liburan musim panas 2026 (5-27 Juli), ia mengunjungi beberapa situs ziarah di pedesaan Italia, termasuk Santuario della Santissima Trinità di Vallepietra pada 22 Juli. Paus ini bukan sedang bersantai tanpa tujuan. Ia sedang mendemonstrasikan sesuatu yang ia tulis dalam ensiklik Magnifica Humanitas : bahwa keseimbangan antara kerja, istirahat, dan waktu senggang bukan kemewahan, melainkan fondasi kehidupan manusia yang sehat.
Apa sebenarnya arti liburan yang bermakna bagi umat Katolik ?
Josef Pieper, filsuf Katolik Jerman yang hidup melewati Perang Dunia II, menulis buku Leisure : The Basis of Culture yang sampai kini menjadi rujukan penting. Bagi Pieper, waktu luang bukan sekadar tidak melakukan apa-apa. Ia menyebutnya sebagai “sikap seseorang yang membuka diri”, bukan yang sekadar berhenti bekerja.
Pater Eamonn O’Higgins, profesor filsafat di Pontifical Athenaeum Regina Apostolorum di Roma dan pakar karya Pieper, menjelaskan perbedaan ini dengan tajam : melepaskan diri dari “kerja servil” sehari-hari untuk menemukan kembali makna keberadaan, hubungan dengan sesama, dan dengan Tuhan. Itulah yang Pieper sebut sebagai kontemplasi sejati, bukan sekadar rebahan atau scrolling media sosial.
Pieper sendiri mengalami pencerahan ini saat melarikan diri ke Italia bersama calon istrinya untuk menghindari gejolak politik Jerman sebelum kebangkitan Nazisme. Perjalanan ke Florence dan Roma memberinya pemahaman bahwa perayaan dan festival, inti dari waktu senggang, berakar pada ibadah kepada Tuhan. Berikut tiga prinsip utama yang ia rumuskan tentang waktu luang bermakna :
- Waktu senggang adalah pintu menuju kontemplasi, bukan kekosongan aktivitas.
- Perayaan sejati selalu berakar pada dimensi spiritual, bukan sekadar hiburan.
- Keheningan dan kemampuan untuk tidak sibuk adalah keterampilan yang harus dilatih.
Uskup Paul Tighe, Sekretaris Seksi Kebudayaan di Dicastery for Culture and Education Vatikan, bahkan menyarankan cara modern yang mengejutkan untuk mengevaluasi kualitas waktu luang kita : periksa riwayat browser-mu. “Di transportasi umum, semua orang sedang doomscrolling,” tegasnya. Waktu, menurutnya, adalah karunia berharga yang harus dipertanggungjawabkan.
Hari Tuhan sebagai latihan konkret istirahat rohani
Pater Francisco Insa, psikiater dan profesor teologi di Pontifical University of Holy Cross Roma, mengingatkan bahwa Sepuluh Perintah Allah bukan hanya larangan, melainkan juga pembebasan. Perintah menguduskan hari Tuhan adalah aturan yang membebaskan kita satu hari setiap minggu dari tekanan produktivitas.
| Aktivitas waktu luang | Bermakna atau tidak ? |
|---|---|
| Doa, membaca Alkitab, liturgi | Sangat bermakna |
| Membaca buku yang memperluas wawasan | Bermakna |
| Olahraga dan waktu bersama keluarga | Bermakna |
| Doomscrolling dan YouTube tanpa henti | Tidak bermakna |
Paus Leo sendiri mengisi hari liburnya dengan doa yang lebih tenang, membaca, olahraga fisik, dan mempererat relasi. Ini bukan standar yang eksklusif untuk paus. bersandar pada kasih karunia Allah justru dimulai dari keberanian meletakkan pekerjaan sejenak dan membiarkan diri hadir sepenuhnya, bagi Tuhan, bagi orang-orang terkasih, dan bagi diri sendiri. Mulailah dari satu hari ini, tanpa ponsel di tangan selama satu jam penuh.
- Anthony Fauci dan Katolisisme yang Hangat : Analisis - 31 Juli 2026
- Fauci dan Katolisisme Santai : Analisis Lengkap - 30 Juli 2026
- Dua khotbah St. Agustinus langka ditemukan - 29 Juli 2026




