Dua ratus lima puluh tahun setelah kemerdekaan Amerika Serikat, ada satu cerita yang nyaris terlupakan : nasib umat Katolik di era kolonial. Pada tahun 1776, jumlah umat Katolik di Amerika hanya kurang dari 2% dari total populasi. Bukan angka yang mengesankan, tapi kisah di baliknya jauh lebih rumit dari yang kamu bayangkan.
Uskup Agung John Carroll, uskup pertama Amerika Serikat, melaporkan data resmi ke Vatikan pada 1785 : sekitar 15.800 umat Katolik di Maryland, setidaknya 7.000 di Pennsylvania, 1.500 di New York, dan tidak lebih dari 200 di Virginia. Sisanya tersebar di berbagai penjuru koloni. Peta ini mencerminkan tekanan hukum yang luar biasa berat.
Tekanan hukum dan bertahan di tengah diskriminasi
Banyak koloni secara terang-terangan melarang Katolisisme. Di Massachusetts, bahkan ada undang-undang yang mengizinkan eksekusi terhadap imam Katolik, meski Seth Smith, profesor sejarah di The Catholic University of America, menegaskan bahwa eksekusi imam karena semata-mata menjadi imam tidak pernah benar-benar terjadi di 13 koloni. Hukumnya represif, tapi penegakannya sering diabaikan karena jumlah umat Katolik terlalu sedikit untuk dianggap ancaman serius.
Frankly, situasi ini ironis. Di Maryland, yang didirikan justru sebagai tempat perlindungan bagi umat Katolik, kondisi berbalik setelah Revolusi Protestan 1689. Umat Katolik kehilangan hak memilih dan dilarang merayakan Misa secara terbuka. Diskriminasi hadir dalam berbagai bentuk :
- Larangan mendirikan sekolah Katolik
- Pembatasan kepemilikan tanah
- Pengecualian dari jabatan publik
- Larangan ibadah terbuka di hampir semua koloni kecuali Rhode Island
Pennsylvania menjadi pengecualian penting. Didirikan oleh William Penn, seorang Quaker pendukung kebebasan beragama, koloni ini menerima Katolik dengan relatif toleran. Pater Joseph Greaton mendirikan paroki Katolik pertama di Philadelphia pada 1733, Old St. Joseph’s Church, yang sengaja dirancang menyerupai bangunan hunian agar tidak menarik perhatian. Untuk masuk, jemaat harus melewati gang sempit dan halaman belakang. Menurut Stephen Paesani, seorang anggota jemaat yang mendalami sejarah paroki tersebut, tempat ini adalah “satu-satunya tempat di seluruh Kekaisaran Britania di mana Misa dirayakan secara legal dan terbuka.”
Di Bally, Pennsylvania, Greaton juga mendirikan paroki Most Blessed Sacrament pada 1741, yang awalnya melayani hanya beberapa keluarga Katolik asal Jerman. Michael Miller, direktur museum paroki tersebut, menceritakan bahwa ketika gereja kecil itu dibangun, para pekerjanya justru berasal dari komunitas Mennonit setempat. Di sini, konflik agama hampir tidak ada karena semua orang, apapun agamanya, bekerja sebagai petani atau pekerja besi.
| Koloni | Populasi Katolik (1785) | Status hukum |
|---|---|---|
| Maryland | ±15.800 | Dibatasi pasca 1689 |
| Pennsylvania | ±7.000 | Toleran secara informal |
| New York | ±1.500 | Ilegal (kecuali 1683-1688) |
| Virginia | ±200 | Sangat dibatasi |
Warisan yang membentuk Amerika modern
Setelah kemerdekaan, angin berubah. Konstitusi dan Bill of Rights menjamin kebebasan beragama secara penuh, dan pada 1790, Presiden George Washington menulis surat langsung kepada Uskup Agung John Carroll. Ia memastikan bahwa umat Katolik akan menikmati hak yang sama dengan Protestan, bahkan mengakui peran Prancis yang Katolik dalam mendukung revolusi.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana Katolisisme benar-benar berkembang dan membentuk identitas Amerika sejak masa kolonial, kamu bisa membaca lebih lanjut tentang Katolisisme dalam sejarah koloni Amerika dan pengaruhnya terhadap pembentukan negara ini. Abad ke-19 kemudian membawa gelombang besar imigrasi Katolik, dan fondasi yang dibangun dengan susah payah di era kolonial itulah yang menjadi titik pijaknya.
- Victor Marx peringatkan media targetkan Kristen - 6 Agustus 2026
- Kristen tetangga : mitra spiritual terbaik Anda - 5 Agustus 2026
- Sejarah katolik Amerika kolonial : cerita terlupakan - 5 Agustus 2026




