Organisasi AS membebaskan 300 Kristen Pakistan dari kerja paksa

Kelompok besar orang berkumpul di padang luas berdebu.

Sekitar satu juta orang Kristen Pakistan saat ini terjebak dalam sistem perbudakan utang yang dikenal sebagai bonded labor, menurut Emma Hall, peneliti persekusi dari lembaga amal Open Doors U.K. and Ireland. Angka ini bisa mencapai 30% dari total populasi Kristen Pakistan, yang tercatat sebanyak 3,3 juta jiwa dalam sensus 2023. Mereka bekerja di tungku-tungku bata, membalik batu bata di bawah terik matahari sejak usia dini, menanggung utang yang diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Sistem ini bekerja melalui pinjaman darurat yang disebut peshgri. Keluarga miskin menerima uang muka untuk kebutuhan mendesak, lalu terjebak dalam siklus pelunasan yang nyaris mustahil diselesaikan. Pakistan secara resmi melarang perbudakan utang sejak 1992, namun penegakan hukumnya tetap lemah hingga hari ini.

Dua organisasi AS turun langsung ke lapangan

Emmanuel Hernandez pertama kali menyaksikan kondisi buruh terikat di pabrik bata Pakistan saat mengunjungi negeri itu untuk menemui calon istrinya. Apa yang dilihatnya mengubah hidupnya selamanya. “Belum pernah seumur hidup saya melihat keputusasaan seperti itu,” katanya. Pada Januari 2025, ia mendirikan nirlaba Project Jubilee dengan satu tujuan : membebaskan keluarga-keluarga dari perbudakan utang ini.

Hasilnya mengejutkan bahkan dirinya sendiri. Berkat donasi yang mengalir masuk, Project Jubilee berhasil menyelamatkan 300 orang Pakistan dari perbudakan hanya dalam beberapa bulan. Meski program ini terbuka untuk semua, Hernandez mengakui bahwa 98% orang yang mereka bebaskan adalah Kristen karena kelompok ini diperlakukan sebagai warga kelas dua di negaranya sendiri.

Biaya rata-rata untuk membebaskan satu keluarga mencapai sekitar 8.500 dolar AS. Dana itu tidak sekadar melunasi utang. Project Jubilee menyiapkan paket pemulihan menyeluruh :

  • Pembayaran pengacara untuk mengurus seluruh dokumen hukum
  • Subsidi sewa tempat tinggal dan bahan makanan selama dua bulan
  • Koneksi dengan pendeta lokal untuk dukungan rohani
  • Biaya pendidikan bagi anak-anak yang selama ini buta huruf
  • Pembelian tuk tuk (taksi motor) sebagai sumber penghasilan mandiri

Aaron Hutchings, warga Idaho yang sudah pensiun dari dunia IT, menemukan profil Hernandez secara daring pada akhir 2025. Ia bergabung dalam perjalanan ke Pakistan pada Januari, dan langsung membebaskan dua keluarga dengan membayar utang mereka saat itu juga. “Ini mengubah masa depan seluruh keluarga untuk generasi mendatang,” ujarnya. Ia kemudian mendirikan Intentional Faith Foundation untuk mengumpulkan donasi lebih luas.

Dampak nyata yang dirasakan anak-anak dan keluarga yang dibebaskan

Yang paling menyentuh hati Hutchings bukan momen pembebasan itu sendiri, melainkan pertanyaan sederhana yang bisa diajukan setelahnya kepada anak-anak : “Apa cita-citamu ?” Sebelumnya, pertanyaan itu tidak relevan bagi mereka. Hidup mereka sudah terpeta sejak lahir : membalik bata seperti orang tua mereka.

Aspek Sebelum pembebasan Setelah pembebasan
Pendidikan anak Tidak bersekolah, buta huruf Didaftarkan ke sekolah
Tempat tinggal Di area pabrik bata Rumah sewa yang layak
Penghasilan keluarga Terikat pada pemilik pabrik Mandiri lewat tuk tuk

Hutchings kembali ke Pakistan pada Mei untuk membebaskan sepuluh keluarga tambahan. Video kunjungannya viral dan menghasilkan donasi yang cukup untuk menyelamatkan satu keluarga lagi. Pemilik pabrik umumnya menerima pembebasan setelah utang dilunasi, meski beberapa membatasi jumlah keluarga yang boleh pergi setiap bulan.

Bagi komunitas Kristen yang berjuang menghadapi berbagai tekanan sistemik, kisah ini membuktikan bahwa aksi langsung dari individu biasa pun bisa memutus rantai penindasan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Komisi HAM Nasional Pakistan sendiri pada 2023 menyerukan larangan kerja anak di tungku bata dan pembentukan serikat buruh sebagai langkah mendesak.

Organisasi AS membebaskan 300 Kristen Pakistan dari kerja paksa

Rian Pratama
Scroll to Top